KDRT Vs Libido

KDRT Vs Libido

Sumber : kompas.com

KDRT adalah istilah populer tentang kekerasan fisik/psikis yang dilakukan salah satu anggota keluarga terhadap anggota keluarga lain.

Asosiasi orang terhadap istilah tersebut biasanya tertuju pada perlakuan kekerasan fisik yang dilakukan suami terhadap istri, walaupun tidak tertutup kemungkinan terjadi kasus sebaliknya, tindak kekerasan istri terhadap suami.

Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tidak hanya menyebabkan pecahnya gendang telinga istri, bibir robek, badan memar, tetapi sekaligus mendapat kekerasan emosional (KEDRT), seperti makian, cercaan, bentakan bertubi, dan pelecehan. Itu terjadi di rumah maupun di tempat ramai, bahkan di antara teman sepergaulan yang mengakibatkan luka batin mulai dari tingkat ringan, moderat, sampai intens pada istri.

Penderita KDRT fisik biasanya lebih cepat mengundang rasa kasihan keluarga atau kerabat karena tampak jelas penderitaan fisiknya, sementara penderita KEDRT lebih terselubung. Kebanyakan orang tidak menyadari dan memahami dampaknya. Kalaupun penderita mengeluh, banyak orang tidak percaya karena umumnya orang lebih menilai kondisi perkawinan melulu dari aspek fisik-materi. Biasanya orang akan mengatakan, ”Wah, dia kerjanya mengeluh terus. Padahal kurang apa dia, rumah punya, mobil ada, uang banyak, apa lagi sih?”

Libido adalah istilah yang dikenalkan psikoanalis Sigmund Freud untuk kekuatan energi biopsikofisik yang mendorong manusia bertumbuh dan berkembang. Libido seksual merupakan salah satu elemen libido itu sendiri. Libido seksual mengandung unsur gairah, sensitivitas, dan kepekaan sensomotorik yang memicu kadar ketertarikan erotis-seksual seseorang.

Bila dibandingkan dengan lelaki, pada perempuan libido seksual tersebut sangat dipengaruhi penghayatan emosional dan kehidupan perasaan.

Kasus

”… Sejak awal pernikahan, dia sudah mulai mengancam saya. Dia mengatakan, kalau saya tidak melarang keluarga saya mengunjungi orangtuanya saat malam menjelang perkawinan keesokan harinya, dia akan membatalkan upacara perkawinan kami.

Betapa kagetnya saya mendengar ancaman itu. Persiapan perkawinan sudah matang, undangan telah tersebar, dan hampir seluruh keluarga besar saya hadir. Saya mengambil sikap mengalah dengan harapan cara ancaman itu akan berhenti.

Nyatanya, hingga ulang tahun ke-10 perkawinan tahun ini, ancaman, bentakan, teriakan, dan makian tidak hentinya. Terkadang saya terdiam sambil menangis sakit hati, tetapi kemudian kesedihan saya tekan dan berusaha tetap mempertahankan perkawinan demi anak tunggal saya.

Ibu, dengan sikapnya yang seperti ini, terus terang kebencian saya terhadap dia menumpuk dan tak tersisa sedikit pun gairah erotis-seksual saya. Kalaupun terjalin relasi seksual, hanyalah karena sebagai istri saya wajib melayani kebutuhan suami. Sikap kurang bersemangat ini rupanya membuat dia tidak puas.

Dia pun selalu mengejek saya dan memanggil saya dengan sebutan ’jid’ dari asal kata frigid (dingin tidak bergairah). Dia tidak pernah menghargai saya, padahal hampir sebagian penghasilan saya, saya gunakan untuk membiayai urusan rumah tangga. Penghasilan saya memang lebih besar dan saya memahami dia harus memberi sokongan finansial kepada kedua orangtuanya yang sudah lansia.

Terus terang, Bu, terkadang timbul keinginan saya untuk diperlakukan dengan baik, lembut, mesra, sesekali diberi hadiah, serta sedikit disanjung….” Demikian L (39).

”… Sebetulnya dia suami yang ’baik’ dalam artian bertanggung jawab secara finansial, tidak pernah selingkuh. Tetapi, dia sangat kasar. Ada sedikit kesalahan saja dia akan membentak, marah, memaki, dan kata-kata ’goblok, tolol, bego’ dengan lancar keluar dari mulutnya.

Marahnya sering tidak terduga, meledak tanpa kendali. Demikian tidak terkendalinya, dia sampai hati mencerca saya dengan kata-kata kasar tersebut dengan suara keras walaupun di sekitarnya ada teman-teman yang sedang berkumpul untuk satu acara. Kedua anak saya pun sering menjadi sasaran makian dan cercaan. Kesalahan dalam menjawab arah jalan saja bisa membuatnya marah besar.

Tanpa saya sadari, kebencian terhadap dirinya menumpuk dalam hati sanubari saya. Dan Ibu, ketahuilah, gairah seksual saya semakin menurun dan menurun, padahal usia saya baru 45 tahun. Untuk hal ini pun sering dia memperolok saya, seperti ’gedebok pisang’. Saya takut anak saya yang lelaki (21) akan meniru perbuatan ayahnya tersebut dan memperlakukan istrinya seperti ayahnya memperlakukan saya, Bu,” demikian P.

Dari kasus di atas dan banyak kasus lain yang analog kita dapat menyimak, semakin tinggi perlakuan KEDRT dari suami, semakin menurun libido seksual istri dan semakin terpupuk kebencian istri terhadap suami. Artinya, perlakuan KEDRT menjadi bumerang bagi pelaku sehingga kebahagiaan, keutuhan kasih sebagai pasangan suami-istri, dan kepuasan pernikahan pun menjadi jauh dari jangkauan.

Hakikat seksualitas terletak pada kebahagiaan total oleh jalinan kasih sayang tulus, saling menghargai, menghormati, dan memerhatikan dalam ikatan perkawinan. Untuk mengharapkan cinta tulus dari pasangan perkawinan, kita harus mampu membuat diri kita dapat dicintai.

Jadi, kenapa kita tidak mawas diri dan mulai memperlakukan pasangan kita dengan kemesraan tulus penuh kasih, tidak dengan bentakan, makian, dan cacian berlanjut tanpa ujung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: